Taman Kili-Kili, Konservasi Penyu

 

 

 

 

 

 

 

KEC.PANGGUL – Sejumlah nelayan yang tergabung dalam kelompok pengawas masyarakat Pantai Taman Kili-kili, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur menangkarkan ribuan ekor tukik (anak penyu) selama musim reproduksi satwa laut itu yang berlangsung antara April hingga Oktober.

Seorang penggiat konservasi sekaligus Sekretaris Pokwasmas Pantai Taman Kli-kili, Kecamatan Panggul Eko Margono, Selasa mengatakan saat ini tak kurang dari 150 ekor tukik mereka tangkarkan di kolam buatan dengan suhu terukur.

“Kemarin (Senin, 23/5) sebanyak 24 ekor tukik kami lepas dalam rangka memperingati Hari Penyu Internasional dengan disaksikan perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek serta jajaran Muspika Panggul,” kata Eko Margono.

Di kolam penangkaran buatan yang mereka sediakan saat ini, kata Eko, masih ada sekitar 150 ekor tukik berusia 1-2 minggu yang masih dalam masa pengawasan dan perawatan.

Menurut dia, pelepasan tukik akan dilakukan secara masal pada acara bersih desa setempat (Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul) yang dijadwalkan digelar antara Oktober-November 2016.

“Kami akan lakukan besar-besaran dengan mengundang banyak pihak terkait sebagai bagian dari kampanye perlindungan satwa penyu maupun aneka jenis hewan liar lain,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konservasi penyu di Pantai Taman Kili-kili telah diakui sebagai kawasan konservasi penyu tingkat nasional.

Sejak dibentuk pokwasmas yang secara khusus melakukan kegiatan konservasi penyu secara swadaya pada 2011, kata Eko, nelayan setempat telah melepasliarkan lebih dari 15 ribu ekor tukik hingga akhir 2015.

“Tertinggi pelepasliaran tukik terjadi pada 2013 yang saat itu mencapai 7.500 ekor (tukik) berhasil kami tangkarkan dan dikembalikan ke laut,” ujarnya.

Pada 2014 dan 2015, kata Eko, jumlah anak penyu yang berhasil mereka tetaskan secara alami maupun menggunakan alat khusus menurun tajam namun masih di kisaran 2.500 ekor.

“Satu ekor penyu indukan (betina) rata-rata menghasilkan antara 90-120 telor. Dari jumlah itu yang berhasil ditetaskan biasanya antara 80-95 persen,” paparnya.

Proses penangkaran menurut keterangan sejumlah anggota Pokwasmas Pantai Taman Kili-kili dilakukan mengikuti musim reproduksi penyu di kawasan tersebut yang mayoritas didominasi jenis penyu lengkang dan hijau.

“Penyu yang bertelur secara alami di kawasan pantai biasanya kami ambil untuk dipendam lagi di area konservasi yang ditandai hingga menetas setelah 40-an hari. Tukik hasil tetasan lalu kami tangkarkan dalam kolam khusus sebelum dilepasliarkan pada usia minimal satu bulan,” papar nelayan Pantai Taman Kili-kili.

 

(Copas saking www.menaksopaldiscovery.com)

 

 

 

 

 

 

 

TOP