Emil Dardak, Panggul Sangat Berpotensi Menjadi Sebuah Kota

 

 

 

KEC.PANGGUL - Dalam kunjungannyadi Kecamatan Panggul Bupati Trenggalek Dr Emil Elestianto Dardak, M.Si, menyayangkan, salah satu cagar budaya peninggalan sejarah penjajahan Belanda kondisinya kurang terawat. Bangunan rumah dinas Camat Panggul ini dulunya memang bekas bangunan jaman Belanda yang kala itu merupakan markas mereka. Semenjak kita merdeka bangunan bersejarah ini difungsikan menjadi rumah dinas Kawedanan hingga Camat Panggul.

 

Sayangnya bangunan ini kondisinya sangat kurang terawat, terlihat beberapa sisi atap bangunan ini mulai runtuh. BupatiTrenggalek yang melihat kondisi itu terlihat sangat kecewa. Karena pejabat yang ada dijajarannya kurang peduli terhadap cagar budaya tersebut. Tidak dirawat dan dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan.

“Bukannya kita mau mengenang Belandanya, melainkan yang perlu kita jaga itu nilai sejarah yang ada pada bangunan ini”, (ungkapnya.red).  Padahal Panggul ini berpotensi menjadi sebuah kota  seperti Wlingi di Blitar yang pusat kotanya Kanigoro, Pare di Kediri dan Bangil di Pasuruan.  Daerah yang menjadi kota itu sendiri butuh yang namanya identitas. Di Panggul  seharusnya salah satu identitas tersebut adalah bangunan ini, tegasnya.

 

Dari dulu buapati ini terkesan pada dua daerah yang ada di Trenggalek yang bisa menjadi gerbang kemakmuran Kabupaten Trenggalek yaitu Panggul dan Watulimo. Kalau Prigi itu cenderung perkembanganya lebih ke arah modern karena ada pelabuhan perikanannya. Sedangkan Panggul ini merupakan sebuah kota yang sudah lama ada, bahkan sejak jaman penjajahan Belanda, ungkapnya.

 

Panggul ini bisa menjadi kota jasa dan perdagangan, yang diharapkan bisa dinamis untuk kegiatan ekonominya. Melihat bangunan rumah dinas camat yang bernilai sejarah, menjadikan banyak pengharapan dari  bupati muda ini. Kalau bangunan tersebut bisa dibikin royal dengan mengedepankan unsur klasik. Contohnya warna putih pada tembok yang mencerminkan kondisi pada masa itu. Sehingga benar-benar terasa bangunan Belandanya. Pastinya bangunan ini menjadi kebanggaan masyarakat Panggul dan Panggul benar benar menjadi kota, ucapnya.

Tahun 2015 kemarin bangunan ini memang rencananya akan direhabilitasi oleh dinas Pu, Perkimsih, akan tetapi gagal dikarenakan proses pelelangannya di LPSE gagal. Kegagalan lelang ini dikarenakan karena tidak ada penawar dengan alasan waktu yang tidak mencukupi.

 

Kepala, PU Perkimsih Ir Soleh menyampaikan perkimsih telah merencanakan rehabilitasi bangunan ini dengan perkiraan dana sekitar Rp 400 juta ditahun 2015 kemarin. Dikarenakan gagal lelang pada waktu itu, ditahun ini akan kita lelang lagi. Mungkin pelelangan itu dilakukan di bulan Maret ini. Sehingga tahun ini bangunan bersejarah ini dapat kembali pada kondisi fisik yang baik dan dapat difungsikan kembali, tegasnya. (Kenthunk)

(copas saking www.menaksopaldiscovery.com)

 

 

 

TOP