HEADLINES

  • 1
  • 2
Prev Next
Pemerintah Pusat Nobatkan Arumi Sebagai Bunda PAUD Nasional Generasi Cerdas Desa

Pemerintah Pusat Nobatkan Arumi Sebagai …

        KEC.PANGGUL – Misi pemerintah pusat untuk meningkatkan kualitas SDM kita untuk generasi mendatang sangatlah kuat Hal ini terlihat dari seriusnya pemerintah dalam menguatkan pendidikan anak usia dini 0-6 tahun (golden... Read more

Lebih 1400 Siswa SD Tarikan Turonggo Yakso Serempak di Festival Rakyat 2016

Lebih 1400 Siswa SD Tarikan Turonggo Yak…

        KEC.PANGGUL – Lebih dari 1400 pelajar SD dari 11 Kecamatan di Trenggalek tarikan Turonggo Yakso, tari khas asli Trenggalek di Festival Rakyat Trenggalek tahun 2016, Jum’at (20/5) di alon-alon. Emil... Read more

EDUCATION

Error: No articles to display

ANEKA PRODUK PENGOLAHAN BUAH MANGGA

 

 

 

GOTREX - Mangga (Mangifera indica L.) merupakan komoditas hortikultura yang banyak dikembangkan karena mempunyai peluang ditinjau dari aspek pasar, nilai ekonomi, areal pengembangan dan dukungan ketersediaan teknologi maupun kandungan gizinya. Selain itu buah mangga juga banyak digemari konsumen karena dapat dikonsumsi segar maupun dalam bentuk olahan.

Pada musim panen raya produksi mangga melimpah, harga buah rendah,banyak terbuang karena sifatnya yang mudah rusak/busuk dan dalam kondisi iklim yang kurang mendukung, buah muda ataupun yang belum siap dipanen banyak yang rontok, sehingga petani mengalami kerugian.

Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu alternatif pemecahannya adalah dengan mengintroduksikan teknologi pengolahan buah mangga sebagai usaha diversifikasi produk olahan. Dengan diterapkannnya teknologi pengolahan, mangga bermutu rendah dalam hal ini buah yang rontok/afkiran/sortiran maupun buah muda hasil penjarangan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku olahan. Mangga muda dapat dibuat asinan, mangga mengkal dibuat manisan dan mangga masak dapat dibuat dodol, sirup, dan lain-lain.

 

1.   Prosedur pembuatan sirup mangga

Alat : Timbangan, baskom, ember plastik, pisau, blender/alat pengepres buah, panci stainless steel, sendok pengaduk, kain saring/saringan, dandang, kompor, torong, botol yang sudah steril, sealer (alat penutup botol) dan plastik sealer botol.

Bahan : Mangga matang penuh 1 kg, gula pasir 750 g, air matang 300 ml

Cara membuat :

1. Buah mangga dicuci, dikupas dan pisahkan daging buah dari bijinya, kemudian daging buah dipotong kecil.

2. Hancurkan daging buah dengan blender, sehingga dihasilkan bubur mangga.

3. Air didihkan, masukkan gula pasir dan diaduk rata, kemudian masukkan bubur manggga, masak sambil diaduk-aduk hingga mendidih.

4. Angkat, dinginkan sebentar kemudian disaring, lalu masukkan kedalam botol sirup yang sudah steril dan ditutup.

5. Botol yang sudah terisi sirup, sebaiknya di disterilisasi / dikukus dalam dandang selama 30 menit.

6. Angkat, dinginkan segera dengan air mengalir .

 

2.  Prosedur pembuatan Manisan Mangga

Alat : Timbangan, baskom, pisau, ember, talenan, panci, sendok pengaduk, serok penirisan, jepitan kue, loyang, kompor, oven, kemasan/plastik polyethylene tebal dan sealer plastik.

Bahan : Mangga mengkal 1 kg, gula pasir 600 g, air 500 ml, asam sitrun 2 g, kapur tohor (15 g/1 liter air, dibuat larutan, ambil jernihnya), Natrium bisulfit 2 g/1 liter air dan asam askorbat 2,5 g.

Cara membuat :

1. Mangga dicuci, dikupas, dicuci dan diiris memanjang setebal 1 cm, kemudian direndam dalam larutan jernih kapur tohor selama 15 menit, lalu diblansir air panas selama 5 menit dan tiriskan.

2. Bahan manisan yang telah ditiriskan tersebut direndam dalam larutan Natrium bisulfit selama 15 menit, lalu ditiriskan lagi dan direndam dalam larutan garam 10 % selama 12-24 jam, kemudian dibilas sampai bersih dan tiriskan.

 

 

 

BERKEBUN MANGGA GEDONG GINCU

GOTREX - Mangga (Mangifera indica L) merupakan komoditas yang sangat populer dimata masyarakat Indonesia. Disamping itu mangga Indonesia memiliki peluang untuk mengisi pasar internasional, karena mangga Indonesia mempunyai kekhasan tersendiri, khususnya mangga Arumanis 143 dan manggaGedong Gincu.


Mangga Varietas Gedong Gincu merupakan varietas Mangga yang cukup menjanjikan untuk pasar modern maupun pasar internasional. Sebab, warna kulit buahnya yang berwarna kuning jingga dan kemerahan dan rasanya manis keasaman dengan aroma yang harum.Provinsi Jawa Barat merupakan sentra poduksi Mangga terbesar setelah Jawa Timur dengan sentra utama di Kabupaten Cirebon, Majalengka dan Indramayu. “Kawasan/Belt Mangga ini merupakan kawasan laboratorium/percontohan,”

Cara Budidaya tanaman mangga gedong gincu sama dengan gedong biasa, perbedaan hanya terjadi pada waktu panen. Mangga gedong biasa dipanen ketika buah mencapai kematangan 60% sedangkan mangga gedong gincu dipanen setelah kematangan buah di atas 70% (dipanen masak), ditandai dengan mulai munculnya warna merah pada penangkal buah. Perbedaan waktu panen mangga gedong gincu sekitar 10 sampai 15 hari dari panen mangga gedong biasa
Pangsa pasar utama mangga adalah negara- negara di Timur Tengah, Asia Timur dan Eropa Barat. Di samping kawasan tersebut sebetulnya masih banyak negara yang berpotensi bisa dijadikan sasaran ekspor mangga. Misalnya, China, Jepang, Eropa dan Australia.
Namun Dimyati mengakui, karena ketatnya persyaratan impor dari negara tujuan tersebut produk Mangga Indonesia belum mampu menempus pasar negara tersebut. Salah satu kendala yang sering menjadi penghambat masuknya produk Mangga Indonesia ke mancanegara adalah adanya serangan lalat buah (Fruit Fly). Akibat hama itu buah Mangga produksi Indonesia dianggap bermutu
rendah karena mengalami kerusakan/busuk.
Karena itu untuk mengeliminir sekecil mungkin kerusakan karena serangan lalat buah, menurut Dimyati, diperlukan bantuan peralatan Vapor Heat Treatmen (VHT). Direktorat Jenderal Hortikultura telah merintis kerjasama dengan pemerintah Jepang melalui Indonesia Japan Economic Partnership for Agreement (IJEPA). “Melalui program kerjasama ini direncanakan Pemerintah Jepang memberikan bantuan peralatan VHT untuk mengantisipasi serangan lalat buah,”

Pemasaran mangga gedong gincu relatif masih baru. Untuk meningkatkan daya saing di

pasar domestik maupun pasar ekspor, masih perlu perbaikan-perbaikan mulai dari aspek produksi, panen, dan penanganan pasca panen agar produk yang dihasilkan mempunyai kualitas sesuai permintaan pasar dan diproduksi secara lebih efisien.

BUDIDAYA DUKU (Lansium Domesticum Corr)

 

 

 

GOTREX - Duku merupakan tanaman tropis beriklim basah yang berasal dari Malaysia dan Indonesia (Kalimantan Timur). Dari negara asalnya, duku menyebar ke Vietnam, Myanmar, dan India. Penyebaran duku tidak secepat manggis. Nama lain yang sering digunakan untuk Lansium domesticum adalah Aglaila dooko Griffth atau Aglaila domesticum (Corr.) Pelegrin. Di dunia ini dikenal tiga macam spesies Lansium yang mirip satu sama lain, yakni duku, langsat, dan pisitan (getahnya paling banyak). Namun, yang terkenal adalah duku dan langsat. Di luar jawa, duku sering disebut langsat. Namun, di daerah jawa, buah langsat sering disebut kokosan. Duku ini mempunyai banyak varietas ada yang buahnya besar sekali, tetapi ada pula yang kecil. Ada yang berbiji besar, ada pula yang tidak berbiji, tetapi ada pula yang apomiksis (biji vegetatif). Sentra produksi duku yang penting adalah Palembang, Pasarminggu (Condet), Karanganyar dan Kulonprogo (Nanggulan). Singosari (Malang) terkenal dengan langsatnya yang tanpa biji. Negara penghasil duku adalah Filipina, Malaysia dan Indonesia

Varietas unggul

Varietas unggul yang dianjurkan untuk dikembangkan adalah rasuan (Palembang). Varietas unggul lainnya adalah condet (Pasar Minggu) dan matesih (Karanganyar). Varietas duku dari Palembang (ogan komering) sangat populer karena hampir tidak berbiji dan rasanya manis sekali.

 

Budidaya Tanaman

Duku ditanam pada jarak 6 – 8 m dalam lubang berukuran 60 cm x 60 cm x 50 cm. Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah jadi sebanyak 20 Kg/lubang. Bibit ditanam pada umur 1 – 2 tahun atau setelah mencapai tinggi 5 cm lebih.

Pupuk buatan berupa campuran 100 g urea, 50 g P2O5 dan 5 g KCl per tanaman diberikan empat kali dengan selang tiga bulan sekali. Setelah ditanam, bibit harus diberi naungan dengan atap daun kelapa atau jerami kering. Kondisi lahan disekitar bibit harus dijaga agar tetap lembap.

Pada musim kemarau dianjurkan di sekitar batang tanaman diberi mulsa jerami kering. Mulsa tidak boleh menutup bagian pangkal batang. Hal ini untuk mencegah serangan rayap yang tidak terlihat dan mencegah leher batang terlalu basah. Pemeliharaan selanjutnya adalah pembersihan tanaman dari lumut kulit batang dan parasit. Bibit dari biji mulai berbuah pada umur 8 – 17 tahun, tergantung pemeliharaan. Di Thailand, bibit sambungan mulai berbuah pada umur 5 – 6 tahun. Biasanya tanaman berbunga pada bulan Desember – Januari.

 

 

 

BUDIDAYA TERNAK SAPI PERAH

 

 

 

GOTREX - Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.

Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni.

Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.

J E N I S

      Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus.

Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia).

Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.

AnalisisUsahaBudidaya
         Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding denganpemeliharaannya.

Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini.

Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5- 4% dari bahan kering.

 

 

 

TOP